Tuesday, July 17

Cara Hack Password Administrator Windows 7/8/10

Demi keamaan data dan privasi pengguna komputer biasanya membuat password di komputernya agar tidak digunakan oleh orang lain, akan tetapi kadang kala kita lupa password yang sudah dibuat. Nah untuk mengatasi Lupa Password Windows ada banyak cara yang bisa dilakukan salah satunya dengan menggunakan software Hiren's BootCD 15.2. berikut langkah-langkahnya :
Cara Reset Password Windows

Cara Reset Password Windows Dengan Hiren's BootCD 15.2

  1. Booting komputer kalian menggunakan Hiren's BootCD. (tentunya anda harus punya software Hiren's BootCD 15.2)
  2. Pilih mini windows xp , Setelah terbuka, lalu pilih HBCD Menu
  3. Pilih menu Programs > Password / Keys > Windows Login > NTPWEdit (Reset XP/Vista/7 User Password)
  4. Pada jendela NTPWEdit silakan cari file SAM di Local Disk yang ada di komputer kalian, biasanya ada di (C:) - Windows - System32 - config - SAM. Setelah ketemu klik Open.
  5. Pada jendela NTPWEdit silakan cek daftar user yang ada, lalu pilih user yang sering digunakan atau user yang akan di reset password-nya, setelah itu klik Change Password.
  6. Silakan ganti Password kalian atau boleh dikosongkan jika tidak ingin pakai password dengan mengosongkan field New password dan field Verify, lalu klik OK.
  7. Klik Save Changes untuk menyimpan perubahan yang dilakukan.
Selanjutnya Restart dan booting normal melalui harddisk komputer. Dan silahkan kalian login dengan password yang telah kalian buat. Sekian posting kali ini Cara Reset / bobol Password Windows Xp, 7, 8,10 Dengan Hiren's Boot.

Monday, July 16

Cara Mengatasi Error 0X000006d9 Saat Sharing Printer di Windows

Error 0X000006d9 Saat Sharing Printer di Windows 7/8/10 - Share Printer Selain dapat menghemat pengeluaran, proses memanfaatkan fitur sharing printer ini juga bisa menghemat waktu. Jadi dengan sharing ini anda tidak perlu lagi untuk mengeluarkan uang untuk membeli printer yang baru untuk disetiap komputer. Tetapi terkadang dalam sebuah proses share printer dalam jaringan pasti akan menemukan kendala atau masalah dan salah satunya adalah “Printer setting could not be saved. Operation could not be completed ( Error 0x000006d9 )”.  seperti terlihat pada gambar dibawah
Printer setting could not be saved

Adapun Penyebab kasus “Printer setting could not be saved. Operation could not be completed ( Error 0x000006d9 )” ialah :
1. Windows Firewall yang terblock oleh Antivirus
2. Settingan Network Discovery dan File and Printer dalam kondisi Turn Off

Untuk mengaktifkan kembali service windows firewall, ikuti langkah-langkah berikut ini:

  • Buka Run (tekan tombol windows+R pada keyboard), lalu ketik services.msc
  • Setelah jendela service terbuka, cari service yang bernama windows firewall, jika benar permasalahannya karena hal ini, maka status service kosong ( bukan Running)
  • selanjutnya klik kanan pada windows firewall, ubah status menjadi running dengan mengklik tombol start
  • kita juga bisa menjadikan service ini selalu aktif dengan memilih dropdown menu automatic
Setting windows firewall
  • Selanjutnya status service windows firewall seharusnya berubah menjadi running
  • Silahkan jalankan kembali settingan sharing printer
  • jika masih belum berhasil coba update driver ke seri terbaru

Demikian cara mengatasi kegagalan setting printer sharing pada windows dengan pesan error "printer setting could not be saved. There are no more endpoints available from the endpoint mapper". Semoga bermanfaat!!

Friday, May 25

"BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS" HADIST /MITOS /FAKTA?

berbukalah dengan yang manis
Agama Islam kita ini sesungguhnya agama yang sempurna. Semua diatur sedemikian rupa. Dari urusan pemerintahan, sampai urusan perut. Sayangnya, seringkali ada banyak pembodohan dalam menjalankan agama ini, dan kita yang jadi korbannya. Karena kita jarang sekali mau berpikir lebih cerdas.

Salah satu pembodohan sederhana, tapi berefek luar biasa tentang menjalankan agama kita adalah sebuah kalimat yang berbunyi "berbukalah dengan yang manis"

Kalau nggak salah, saya pertama kali mendengar kalimat ini ketika SD. Saya mendengarnya dari iklan minuman di TV. Dan sejak itu, rasanya semua orang menganggap bahwa itu adalah hadits yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahwa Rasulullah mengajarkan berbuka dengan yang manis-manis.

Faktanya : Rasulullah shalallahu alayhi wasallamTIDAK PERNAH mengajarkan berbuka dengan yang manis. Atau, tidak ada satupun hadits Rasulullah yang redaksinya menjelaskan untuk berbuka dengan sesuatu yang manis.

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam memang pernah bersabda begini :

”Bila kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma, karena kurma itu barakah. Kalau tidak ada kurma, maka dengan air, karena air itu mensucikan." (HR. Abu Daud dan At-Tirmizy)

Pernah juga Anas Bin Malik, seorang sahabat yang sejak kecil selalu berada di dekat Rasulullah, berkata "Rasulullah berbuka dengan ruthab sebelum shalat, jika tidak terdapat ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr, jika tidak ada beliau meneguk air."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ruthab itu kurma muda, yang segar, yang masih ada airnya. Dan tamr itu kurma kering, yang biasa kita temui di pasar.

Kurma memang adalah makanan yang manis. Dan nampaknya, ada orang yang memaknai bahwa, kalau nggak ada kurma, yang penting berbukalah dengan “sesuatu yang manis”. Lantas “sesuatu yang manis” itupun mengejawantah menjadi ; kolak pisang, bubur candil, es cendol, sop buah, es campur, brownis, kue coklat dan segala macam makanan manis yang ada di muka bumi.

Sampai akhirnya, ini jadi semacam kesepakatan tak tertulis. Bahwa berbuka memang harus dengan makanan & minuman yang manis-manis begitu.

Pertanyaannya,_ apakah sama manisnya kurma dengan manisnya makanan dan minuman di atas tadi?_

Jawabnya : jelas tidak.

Kandungan gula yang ada di kurma dan gula yang ada pada makanan minuman itu jauh berbeda. Saya nggak akan membahas istilah-istilah fruktosa, sukrosa, glukosa dan lain sebagainya ya. Silakan berselancar saja di internet, untuk mendapatkan istilah-istilah itu.

Yang jelas gula yang ada pada makanan dan minuman yang kita konsumsi selama ini dikategorikan menjadi simple carbohydrates, sehingga tubuh menyerap lebih cepat. Sehingga jadi lebih cepat juga diproses oleh pankreas menjadi hormon insulin. Karena penyerapannya sangat cepat, maka proses pembentukan insulin menjadi sangat cepat juga. Semakin banyak karbohidrat yang dikonsumsi, semakin tinggi kadar gula darah. Sehingga semakin banyak hormon insulin yang diproduksi untuk menetralkan kadar gula darah itu.

Kemudian, pasukan insulin ini akan memindahkan gula darah ke dalam sel, untuk selanjutnya dikonversi menjadi energi & glikogen (glikogen ini semacam deposit energi). Nah, masalahnya kapasitas sel untuk menampung glikogen itu terbatas. Jadi, kalau sel sudah penuh dengan glikogen, maka kelebihan gula darah akan dikonversi menjadi lemak. Inilah yang menjadi masalah.

Nah, beda dengan kurma. Kurma itu adalah complex carbohydrates , alias karbohidrat kompleks. Jadi, kadar gula yang ada di kurma itu jauh lebih lambat diserap oleh tubuh. Rantai prosesnya lebih panjang. Dan kata teman saya yang anak teknologi pangan, setiap proses “pemecahan senyawa kimia” dari karbohidrat kompleks itu pun membutuhkan energi. Ini kenapa insulin menjadi lebih lambat diproduksinya. Sehingga, gula darah yang didistribusikan ke sel untuk dikonversi jadi energi & glikogen juga sewajarnya. Nggak berlebihan. Jadi, otomatis, gula darah nggak akan sempat dikonversi menjadi lemak.

Paham sampai sini ya ? Kalau nggak paham, dipaksain utk paham saja yaaa....

Jadi, selama ini kita mungkin memiliki pemahaman yang keliru tentang “berbuka dengan yang manis”. Pemahaman yang keliru ini yang akhirnya membuat tubuh kita jadi kelebihan lemak. Obesitas. Lalu pada protes, “Kok saya puasa jadi makin gendut ya?”

“ya iyalaaaah...kamu makan & minumnya yang manis-manis sih!”

Nah, sampai sini kita semoga memahami mengapa Rasulullah hanya memakan kurma basah dan kurma kering saat berbuka. Kalau tak ada, maka beliau berbuka dengan air putih saja. Kalau kita, sebagai tambahan, atau kalau kesulitan mendapatkan kurma, bisa gantikan dengan buah yang manis. Pilihan makanan berbuka ini yang membuat tubuh Rasulullah begitu sehat & bugar. Tak ada lemak yang berlebih di tubuh.

Selamat menjalankann ibadah puasa.
Berbukalah dengan yang manis sesuai Sunnah Rasulullah shalallahu alayhi wasallam

Sumber : Tehnologi Pangan & Sudut pandang Islam

================================================

“BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS? ”
HADITS KAH?

Tidak ada hadits "BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS" Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan air minum jika tidak ada kurma


Entah sejak kapan mulai populer ungkapan “Berbukalah dengan yang manis“ Ada yang mengatakan sejak sebuah iklan produk minuman menggunakan tagline tersebut di bulan Ramadhan. Sampai-sampai sebagian (atau banyak) orang menganggap ungkapan ini sebagai hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (!?!)

Yang jelas, tidak ada hadits yang berbunyi "Berbukalah dengan yang manis” atau semisalnya, atau yang mendekati makna itu. Baik dalam kitab hadits maupun kitab fiqih. Tidak ada sama sekali. Namun sayang sekali ungkapan ini disebar-sebarkan sebagai hadits oleh sebagian da’i dan juga public figure semisal para selebritis yang minim ilmu agama. Dan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

من حدَّثَ عنِّي بحديثٍ وَهوَ يرى أنَّهُ كذِبٌ فَهوَ أحدُ الْكاذبينِ

"barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku suatu hadits yang ia sangka bahwa itu dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta”
(HR. Muslim dalam Muqaddimah-nya).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كَفَى بِالمَرْءِ إِثْمًا أنْ يُحَدِّثَ بكلِّ ما سمعَ

“cukuplah seseorang dikatakan pendusta ketika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar”
(HR. Abu Daud 4992, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 2025)

Mengenai apa yang dimakan ketika berbuka sendiri sudah ada tuntunannya,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air”
 (HR. Abu Daud 2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Namun memang, sebagian ulama dari hadits ini meng-qiyas-kan kurma dengan makanan yang manis-manis. Taqiyuddin Al Hushni, penulis kitab Kifayatul Akhyar menukil pendapat Ar Rauyani yang menyatakan demikian:

وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ

“dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: 'kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma'” (Kifayatul Akhyar, 200).


NAMUN PENDAPAT INI PERLU DIKRITISI KARENA:

Nash hadits tidak mengisyaratkan illah secara tersirat maupun tersurat. Menetapkan sifat “manis” sebagai illah adalah ijtihad sebagian ulama, dan ini tidak disepakati.Kurma itu berkah. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

( إنَّ مِن الشجَرِ لما بَرَكَتُهُ كَبركةِ المسلمِ ) . فَظننتُ أنَّهُ يعني النخلةَ ، فأردتُ أنْ أقول : هي النخلةُ يا رسولَ الله ، ثم التَفتُّ فإذا أنا عاشِرُ عَشَرةٍ أنا أحْدَثهُم فسَكتُّ ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( هيَ النَّخلَة )

“Sesungguhnya ada pohon yang daunnya tidak berguguran, dan ia merupakan permisalan seorang muslim. Pohon apa itu?”. Aku (Ibnu Umar) menyangka yang dimaksud adalah pohon kurma. Namun aku enggan “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, maka aku berpaling. Karena aku terlalu muda untuk bicara kepada mereka, jadi aku diam saja. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberitahu jawabannya: “Pohon tersebut adalah pohon kurma"(HR. Bukhari 131, Muslim 2811).

Dalam kitab Sifat Shaumin Nabi fii Ramadhan (66) karya Syaikh Ali Al Halabi dan Syaikh Salim Al Hilali dikatakan:  “ketahuilah wahai hamba Allah yang taat, bahwa kurma itu memiliki keberkahan-keberkahan yang khusus yang bisa mempengaruhi hati dan membersihkannya. Ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengikuti sunnah”

Jika demikian makanan manis tidak bisa di-qiyas kan pada kurma, karena makanan manis biasa tidak memiliki keberkahan ini.

Konsekuensi dari qiyas ini berarti jika tidak ada kurma maka yang lebih dulu dimakan adalah makanan manis, jika tidak ada makanan manis baru air. Sedangkan nash mengatakan jika tidak ada kurma maka berbuka dengan air. Walhasil, ini bertentangan dengan nash. Dan qiyas itu tidak boleh bertentangan dengan nash.

Ketika menjelaskan syarat-syarat qiyas, diaantaranya Syaikh Muhammad Husain Al Jizani mengatakan: “syarat ke delapan: illah-nya tidak menyelisihi nash atau ijma’. Ini jika illah tersebut merupakan hasil istinbath” (Ushul Fiqh Inda Ahlis Sunnah, 194)

Banyak ulama menjelaskan alasan mengapa Nabi berbuka dengan kurma dahulu yaitu karena kurma itu manis dan makanan manis itu menguatkan tubuh orang yang puasa. Ini dalam rangka menjelaskan hikmah bukan illah.

Hikmah berbeda dengan illah, Syaikh Sa’ad bin Nashir As Syatsri mengatakan: “perbedaan antara illah dan hikmah: illah adalah washfun mundhabitun (sifat yang terukur dan jelas batasannya), sedangkan hikmah tidak selalu berupa washfun mundhabitun. Misalnya safar adalah illah untuk bolehnya meng-qashar shalat, sedangkan ‘menghilangkan kesulitan hamba’ ini adalah hikmah (dari meng-qashar)”
 (Muqaddimah fii Ilmi Maqashid As Syari’ah, 7).

Namun qiyas Ar Rauyani ini bukanlah qiyas fasid karena sifat “manis” ini masih termasuk sifat yang munasib li binaa-il hukmi (sifat yang cocok untuk dijadikan bahan pemutusan hukum), namun merupakan qiyas yang lemah.

Dan pendapat Ar Rauyani (yang merupakan ulama Syafi’iyah) dibantah oleh banyak ulama fiqih yang lain, termasuk para ulama dari kalangan Syafi’iyah sendiri. Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan:

“فإن عجز” عن الثلاث “فبتمرة” أو رطبة يحصل له أصل السنة “فإن عجز” عن الرطب والتمر “فالماء” هو الذي يسن الفطر عليه دون غيره خلافًا للروياني حيث قدم عليه الحلو وذلك للخبر الصحيح المذكور

"[jika tidak ada] tiga tamr atau ruthab [maka dengan satu tamr] atau ruthab. Maka dengan ini tercapai pokok sunnah.

[Jika tidak ada] ruthab dan tamr [maka dengan air].

Inilah yang disunnahkan dalam berbuka, bukan yang lainnya.

Tidak sebagaimana pendapat Ar Rauyani yaitu ia mendahulukan makanan manis. Pendapat ini (didahulukannya kurma dan air) berdasarkan hadits shahih yang telah disebutkan”
(Al Minhajul Qawiim, 1/252)

Zainuddin Al Malibari mengatakan:

قال الشيخان: لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني: الحلو أفضل من الماء ضعيف

“Syaikhan (An Nawawi dan Ar Rafi’i) mengatakan: ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’. Maka pendapat Ar Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah” (Fathul Mu’in, 1/274)

Dalam kitab Hasyiah Al Qalyubi Wa ‘Umairah (2/78) juga disebutkan:

قَوْلُهُ: (عَلَى تَمْرٍ) وَالْأَفْضَلُ كَوْنُهُ وَتْرًا وَكَوْنُهُ بِثَلَاثٍ فَأَكْثَرَ وَيُقَدِّمُ عَلَيْهِ الرُّطَبَ وَالْبُسْرَ وَالْعَجْوَةَ وَبَعْدَهُ مَاءُ زَمْزَمَ، ثُمَّ غَيْرُهُ، ثُمَّ الْحَلْوَاءُ بِالْمَدِّ خِلَافًا لِلرُّويَانِيِّ. وَيُقَدِّمُ اللَّبَنَ عَلَى الْعَسَلِ لِأَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُ

“perkataan As Suyuthi: ‘dengan kurma’, menunjukkan bahwa yang afdhal berbuka dengan tamr yang jumlahnya ganjil, tiga atau lebih, dan yang lebih utama darinya adalah ruthab dan busr dan ajwah. Dan tingkatan setelah tamr adalah air zam-zam, baru yang lainnya, baru kemudian makanan manis sebagai tambahan. Tidak sebagaimana pendapatnya Ar Ruyani. Dan juga susu diutamakan dari pada madu karena susu lebih utama dari madu”

MAKANYA KESIMPULANNYA:

Tidak ada hadits “berbukalah dengan yang manis“.Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Lebih salah lagi jika mendahulukan makanan manis padahal ada kurma.

Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma maka dengan air minum. Adapun makanan manis sebagai tambahan saja, sehingga tetap didapatkan faidah makanan manis yaitu menguatkan fisik.

Wallahu a’lam.

=================

Penulis: Yulian Purnama

Artikel http://Muslimah.Or.Id

Thursday, May 24

Karena Cinta Butuh Pengorbanan

Karena Cinta Butuh Pengorbanan
Kalau ngomong Masalah cinta, maka gak akan habis dibahas, hanya episode yang berulang dari awal zaman hingga saat ini, kisah atau sandiwara yang berulang-berulang dengan

Bagaimana Qabil membunuh Habil,
Julius Caesar yang konon bertekuk mengharap cinta Cleopatra
Unta nabi Shalih yang terbunuh, Nabi Yusuf yang kuat melawan godaan cinta terlarang
Julio dan  romiet yang konon bunuh dari bersama, harapannya ruh memadu kasih di surga karena di dunia hendak dipisahkan
Bagaimana Sitinurbaya yang terpaksa mencintai
lalila Majnun, wah banyak sekali…

Tetapi Cinta yang mana butuh pengorbanan? Semua cinta butuh pengorbanan,

ternyata cinta bukan saja dimonopoli oleh sejoli

KARENA CINTA ADA DUA MACAM

1. CINTA IBADAH

Yaitu Cinta kepada Allah dan karena.memgharap conta dan  Ridha Allah
Kenapa nongkrong  masjid? Krna senang dan cinta, padahal masih bisa ningkrong tempat lain
sekedar perasaan dan ada kecendrungan hati kepada Allah itulah cinta ibadah

Kenapa pilih bangun rumah di sini, karena tetangga dan lingkungannya adalah mereka yang cinta Allah

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 7)

Pembahasan lanjutan: mahabbah/cinta fillah, cinta lillah, cinta ma’allah (ini tidak boleh),

2. CINTA THABI'  /TABIAT

Allah Ta’ala befirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran: 14-15)


PENGERTIAN CINTA?

Begitu banyak manusia yang mencoba mendefinisikan cinta, mencoba menguak misteri cinta, mencoba membuka tabir pengertian cinta dan mencoba meraba-raba apa yang tersembunyi di balik cinta dan mencoba memberikan arti pasti mengenai cinta. Namun sampai sekarang manusia belum mampu mendefiniskan cinta secara pasti dan jelas serta mewakili semua perasaan manusia yang pernah merasakan atau sedikit mencicipi cinta.

Hal ini telah dikemukan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullahu, ulama pakar hati, beliau berkata:

لَا تُحَدُّ الْمَحَبَّةُ بِحَدٍّ أَوْضَحَ مِنْهَا. فَالْحُدُودُ لَا تَزِيدُهَا إِلَّا خَفَاءً وَجَفَاءً. فَحَدُّهَا وُجُودُهَا. وَلَا تُوصَفُ الْمَحَبَّةُ بِوَصْفٍ أَظْهَرَ مِنَ الْمَحَبَّةِ


“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan semakin kabur, definisinya adalah keberadaan cinta itu sendiri. Cinta tidak bisa digambarkan dengan gambaran yang lebih jelas dari perasaan cinta tersebut”.(Madarijus Salikin 3/11, Darul kitab Al-Arabi, Beirut, cetakan ketiga, Asy-Syamilah)

Jadi, biarlah cinta itu dirasakan oleh yang ingin merasakannya, karena definisinya tergantung orang yang merasakan dan gambarannya tergantung orang yang mampu menggambarkannya. Namun, tidak ada salahnya kalau kita melihat apa saja definisi cinta yang telah didefinisikan oleh orang-orang yang berusaha menyelami makna cinta.

Adanya yang mendefinisikan cinta dengan ungkapan:

من أحب أكثر من ذكره

“Barangsiapa yang mencitai, pasti akan banyak menyebut-nyebut/mengingat”

CINTA DAN IBADAH ADALAH PENGORBANAN

Tentu butuh pengorbanan, cinta sejoli saja menuntur pengorbanan.. gunung kudaki, laut kusebrangi, masjid kulewati… (eh ini  bisa cinta palsu). Lewat pintu belakang bagi penakiut hanya lewat perhatian semu  atau bunga yang segera layu atau jantan menghadapi bapaknya.

PENGORBANAN ADALAH PEMBUKTIAN CINTA

Contohnnya Ibadah haji yang mulia, mengumpulkan semua pengorbanan. Jika shalat mengorbankan energi badan,  zakat mengorbankan harta, puasa  mengorbankan menahan syahwat, maka haji mengumpulkan semuanya, energi, harta dan menahan syahwat larangan ihram

Misalnya jika ada yang tidak pernah berkurban idul adha seumur hidup

Masa’ tidak pernah qurban? Padahal Allah berfirman,

قل إن صلاتي و نسكي و محياي و مماتي لله رب العالمين

“Berkata olehmu, wahai Rasulullah, bahwasannya sembahyangku, dan SEMBELIHAN /QURBAN aku, dan hidupku, dan matiku, tertentu semuanya bagi Allah Ta’ala yang menjadikan segala alam.’

Tanpa pengorbanan cinta hanya sekedar klaim atau bertepuk sebelah tangan
Karenanya ulama berkata “Yang penting bagaimana Allah mencintai kita”
Karena kalau ditanya “semua muslim pasti cinta Allah”
Tapi apa pengorbanannya?
Begitu juga cinta Rasul, Al-Quran dan lainnya, butuh pengorbanan

KARENA PENGORBANAN ADALAH PEMBUKTIAN CINTA

Wednesday, May 23

Apakah Menelan Dahak Dan Ludah Membatalkan Puasa ??

Apakah Menelan Dahak Dan Ludah Membatalkan Puasa ??
Menelan ludah ketika berpuasa

Jawabannya menelan ludah TIDAK Membatalkan puasa.

Hal ini katakan oleh imam An-Nawawi sebagai ijma’ (kesepakatan ulama), beliau berkata,

ابتلاع الريق لا يفطر بالإجماع

“Menelan air ludah tidak membatalkan puasa secara ijma’”[1]

Tidak bisa diipungkiri bahwa menahan diri agar tidak menelan air ludah adalah hal yang sulit karena terkadang manusia otomatis menelan ludah mereka. Dan agama Islam tidaklah diturunkan untuk memberatkan manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj :78)

Allah Ta’ala juga berfirman,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (AL-Baqarah: 185)


Ibnu Qudamah rahimahullah  berkata,

وما لا يمكن التحرز منه كابتلاع الريق لا يفطر، لأن اتقاء ذلك يشق

“Apa yang tidak mungkin menjaga diri darinya misalnya menelan ludah maka tidak membatalkan puasa, karena menjaga hal ini bisa memberatkan”[2]


Demikian juga fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah,

ابتلاع الصائم ريقه لا يفسد صومه ولو كثر ذلك وتتابع في المسجد وغيره، ولكن إذا كان بلغما غليظا كالنخاعة فلا تبلعه، بل أبصقه في منديل ونحوه إذا كنت في المسجد.

Menelan ludah tidak membatalkan puasa, meskipun banyak atau sering dilakukan ketika di masjid dan tempat-tempat lainnya. Akan tetapi, jika berupa dahak yang kental maka sebaiknya tidak ditelan, tetapi keluarkan (diludahkan) di saputangan atau sejenisnya (tissue) jika di masjid.[3]

Menelan Dahak ketika berpuasa

Adapun menelan dahak, maka diperselisihkan dan yang terkuat adalah TIDAK membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utasimin rahimahullah berkata,

البلغم أو النخامة إذا لم تصل إلى الفم فإنها لا تفطر، قولاً واحداً في المذهب، فإن وصلت إلى الفم ثم ابتلعها ففيه قولان لأهل العلم:

منهم من قال: إنها تفطر، إلحاقاً لها بالأكل والشرب

ومنهم من قال: لا تفطر، إلحاقاً لها بالريق، فإن الريق لا يبطل به الصوم، حتى لو جمع ريقه وبلعه، فإن صومه لا يفسد.

وإذا اختلف العلماء فالمرجع الكتاب والسنة، وإذا شككنا في هذا الأمر هل يفسد العبادة أو لا يفسدها؟ فالأصل عدم الإفساد وبناء على ذلك يكون بلع النخامة لا يفطر.

والمهم أن يدع الإنسان النخامة ولا يحاول أن يجذبها إلى فمه من أسفل حلقه، ولكن إذا خرجت إلى الفم فليخرجها، سواء كان صائماً أم غير صائم، أما التفطير فيحتاج إلى دليل يكون حجة للإنسان أمام الله عز وجل في إفساد الصوم.

Menelan dadak, jika belum sampai ke mulut maka tidak membatalkan puasa. Ulama madzhab hambali sepakat dalam hal ini. Namun jika sudah sampai ke mulut, kemudian dia telan, dalam hal ini ada dua pendapat ulama.

Pertama: Itu membatalkan puasa, karena disamakan dengan makan dan minum.

Kedua: Tidak membatalkan puasa, karena disamakan dengan ludah. Karena ludah tidak membatalkan puasa. Bahkan andaikan ada orang yang mengumpulkan ludahnya kemudian dia telan maka puasanya tidak batal.

Sikap yang tepat, ketika terjadi perselisihan ulama, kembalikan kepada al-Quran dan sunnah. Jika kita ragu dalam suatu hal, apakah termasuk pembatal ibadah ataukah tidak, hukum asalnya adalah tidak membatalkan ibadah. Berdasarkan hal ini, menelan dahak tidak membatalkan puasa.

Yang terpenting, hendaknya seseorang tidak menelan dahak dan tidak berusaha mengeluarkannya dari mulutnya ketika berada di tenggorokan. Namun jika sudah sampai mulut, hendaknya dia membuangnya. Baik ketika sedang puasa atau tidak lagi puasa. Adapun, keterangan ini bisa membatalkan puasa, maka keterangan ini butuh dalil. Sehingga bisa menjadi pegangan seseorang di hadapan Allah bahwa ini termasuk pembatal puasa.[4]

Demikian semoga bermanfaat


_____________________________
Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab 6/317, syamilah

[2] Al-Mughni 3/16

[3] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 9584, syamilah

[4] Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, Volume 17, no. 723