Friday, March 13

Perempuan dan Rasa Malu

SEPEREMPUAN APA DIRIMU, SIMPANLAH UNTUK TUHANMU
SEPEREMPUAN APA DIRIMU, SIMPANLAH UNTUK TUHANMU

Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi)

Perempuan dan rasa malu ibarat koin mata uang, saling berikatan. Malu bagi perempuan adalah mahkota, yang membuat dirinya lebih terjaga dan dijaga. Tanpa rasa malu, perempuan tidak lagi terhormat. Tanpa rasa malu, perempuan bukan lagi perhiasan dunia.

Dulu, para istri Nabi dan Sahabiyah begitu menjunjung rasa malunya. Tidak ada budaya ikhtilat apalagi berkhalwat. Tidak ada kebiasaan meninggikan suara hingga orang lain tergoda. Menghindari berdandan agar dirinya tidak menjadi fitnah bagi orang lain yang bukan mahramnya.

Namun jaman mulai berubah, saat ini banyak perempuan yang mulai kehilangan rasa malunya. Sebagian sudah berani membuka auratnya dengan alasan tidak mau ketinggalan zaman. Sebagian lain menafikkan rasa malu dalam dirinya dengan ‘memamerkan’ kecantikan dan keahlianya.

Banyak yang sengaja membiarkan orang lain tahu seperti apa rupa asli dirinya. Beragam cara syetan bujukkan kepada mereka yang sudah terjaga. Ada yang dengan hobbi foto selfie lalu di unggah di sosial media. Lebih halus lagi, syetan membujuk untuk sering update kegiatan sehari-hari, mulai dari bangun tidur, baca Alquran, memasak, beres-beres rumah dan lain sebagainya. Bila masih kurang mantap, dilengkapi dengan mengunggah hasil masakan atau rapinya hasil beberes rumah. Padahal kalau sedikit saja mau mengevaluasi diri, sebenarnya buat apa itu semua? Apakah agar banyak orang tahu seperempuan apa kita? Lalu apakah itu membuat tingkatan kita dihadapan Allah menjadi lebih tinggi?

Fenomena semakin terbukanya ‘hijab’ perempuan ini perlu kita lihat seksama. Media sosial yang sebenarnya banyak manfaatnya kini hanya menjadi tempat untuk unjuk kebolehan menyibak rasa malu. Ini bukan hanya tentang ‘biarlah orang berkata apa’, namun jauh lebih baik dari itu, ‘untuk apa dan siapa ini semua’. Allah tidak pernah mensyaratkan publikasi kebaikan amal untuk mendapatkan surga. Bahkan islam lebih menganjurkan untuk menyembunyikan amalan yang kita lakukan.

Maka, seperempuan apa diri kita biarlah orang terdekat yang tahu. Tidak perlu dipublikasikan, tidak perlu dipamerkan. Apabila itu bernilai kebaikan, biarlah menjadi amalan andalan, bila itu aib, semoga Allah berkenan menjagakan.


EmoticonEmoticon