Monday, October 19

Masuk Surga Tidak Harus Terkenal

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Al Imām Asy Syāfi'ī rahīmahullāhu Ta'āla pernah berkata:
وددت أن الخلق يتعلمون هذا العلم ولا ينسب إلي منه شيء
"Aku berangan-angan manusia mempelajari ilmu ini dan tidak dinisbatkan ilmu tersebut sedkitpun kepadaku."

Ini menunjukkan ketulusan hati Al Imam Asy Syāfi'ī rahīmahullāhu.
Yang beliau ingin agar ilmu beliau tersebar dan beliau tidak ingin orang tahu bahwasannya ilmu tersebut berasal dari beliau.
Karena memang, para ikhwan yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, untuk masuk surga tidak mesti seorang itu tampil.
Tidak mesti seorang itu terkenal, tidak mesti seorang itu paling depan.
Bahkan lebih aman jika seorang bisa beramal shalih tanpa harus diketahui.

Karena kalau seorang tatkala beramal shalih dan dia menampakkan amal shalihnya (sehingga) diketahui oleh masyarakat, maka rawan:
⇒ Khawatir dia terjerumus dalam penyakit riyā',
⇒ Khawatir terjerumus dalam penyakit 'ujub (bangga) dengan amalannya.

Sehingga akan menghancurkan amalan ibadah yang dia lakukan.
Karenanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memotifasi seseorang untuk menyembunyikan amalnya.
Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبِيءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ
"Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal shalih yang dia sembunyikan, maka lakukanlah."
(Shahīh Al Albāniy dalam Al Silsilah Ash Shahīhah 5/398)

Jika kita mampu memiliki amal shalih yang banyak yang bisa kita sembunyikan maka lakukanlah.
Kenapa?
Karena amal shalih yang tersembunyikan pahalanya lebih besar dari pada amal shalih yang dinampakkan.
Iblis senantiasa berusaha agar kita terjerumus dalam penyakit riyā' dan juga penyakit 'ujub agar amalan kita menjadi gagal.

Tatkala iblis tidak mampu untuk menjerumuskan kita dalam riyā' ataupun 'ujub, maka dia ingin agar (pahala) amal ibadah kita berkurang.
(Misal) Seseorang telah beramal shalih dengan baik, dia sudah sembunyikan amal shalihnya (tidak diumbar dan tidak diceritakan/ditulis di "status").

Maka datang iblis menggelitiki hatinya agar dia ceritakan amal dia.
Tatkala dia tergelitik oleh iblis hingga akhirnya dia menceritakan amal shalih dia, maka pahalanya berkurang dan ini adalah salah satu tujuan iblis.
Makanya kita harus ingat hadits-hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang memotifasi kita untuk beramal shalih dengan menyembunyikannya.

Diantaranya sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
Diantara orang-orang yang dinaungi oleh Allāh pada hari kiamat kelak, yaitu:
رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
"Seorang yang dia bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan dengan tangan kanannya."
(HR Bukhari no. 1421)

Dan dia benar-benar berusaha menyembunyikannya.
Ini menunjukkan gambaran/kiasan (kinayah) dari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang luar bisa.
Kenapa?
Karena tangan kiri adalah sahabat dekat tangan kanan.
Apapun yang dilakukan oleh tangan kanan maka tangan kiri mengetahuinya.
Kenapa? Karena teman sedekat.
Tangan kiri senantisa membantu tangan kanan.
Namun tatkala tangan kanan bersedekah, dia benar-benar menyembunyikan amalan dia sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahuinya.
Ini menunjukkan luar biasanya dia menyembunyikan amalnya dan dia akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa juga dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla tatkala dihari kiamat kelak.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam juga bersabda:
إن صدقة السر تطفئ غضب الرب
"Sesungguhnya sedekah yang dikeluarkan secara diam-diam akan meredamkan amarah Allāh Subhānahu wa Ta'āla."
(HR Ath Thabrāni meriwayatkan dalam Al Kabir (1018) dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya. Syaikh Al Albani menshahihkan Hadits ini dalam Ash Shahīhah 1908)

Meskipun dalil-dalil ini berkaitan dengan masalah sedekah namun berkaitan juga dengan seluruh ibadah.
Seseorang (hendaknya) berusaha menyembunyikan amal shalihnya.
Dan amal shalih itu banyak, misalnya seorang berbakti kepada orang tuanya.
Jika dia berbakti kepada orang tuanya, JANGAN dia sebarkan melalui status "Facebook" atau "Whatsapp".
Misalnya dia cerita:
"Hari ini saya telah berbakti kepada orangtua."
"Saya hari ini telah memberi hadiah kepada orang tua saya."
"Hari ini telah mengantar orang tua."
Tidak perlu!
Cukup Allāh yang Maha Tahu.
Pahalanya akan lebih besar, kenapa?
Berbakti kepada orang tua adalah ibadah yang sangat mulia.
Kalau dia sembunyikan pahalanya akan lebih besar.

Demikian juga tatkala dia haji, tatkala umrah.
Maka jangan dia pamerkan ibadahnya, jangan dia tampakkan ibadahnya, tidak usah diceritakan kepada orang lain.
Diantara perkara yang sangat menyedihkan yang saya lihat dengan mata kepala sendiri, setelah saya baca suatu kabar dari Arab Saudi disebutkan bahwasannya:
"KA'BAH PUN TIDAK SELAMAT DARI SELFI"
Begitu judulnya.

Demikianlah, tatkala saya 'umrah saya lihat banyak orang yang nekat berdesak-desakan untuk "selfi" di depan Ka'bah.
Padahal orang-orang lain berdesak-desakan, dorong-dorongan, namun dia berusaha bisa "selfi".
Apa maksudnya?
Dia ingin sebarkan bahwasannya, "Saya berhasil di depan Ka'bah."
Kalaupun dia tulus, pahalanya akan berkurang, dari pahala menyembunyikan amal menjadi pahala amalan yang dinampakkan.
Makanya harus kita camkan dalam hati kita bahwasanya menyembunyikan amalan lebih afdhal daripada menampakkan amalan.

Karena lebih membantu untuk ikhlas kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Jadi kita:
✘ Tidak harus tampil dalam beribadah,
✘ Tidak harus tampil (menunjukkan diri) dalam berdakwah,
✘ Tidak harus tampil dalam urusan ibadah.

Justru gara-gara ingin tampil inilah terkadang menimbulkan banyak permasalahan.
Betapa banyak orang yang akhirnya ribut gara-gara;
• ingin tampil
• ingin dia yang di depan
• ingin berbicara
• ingin dia yang ditampilkan

Padahal, jika seorang mampu untuk bisa beribadah tanpa harus tampil (tanpa harus diketahui), maka ini tentunya lebih afdhal.
والله أعلم بالصواب

Sumber: vidio ceramah Ustadz Firanda Andirja MA.


EmoticonEmoticon