Friday, May 25

"BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS" HADIST /MITOS /FAKTA?

berbukalah dengan yang manis
Agama Islam kita ini sesungguhnya agama yang sempurna. Semua diatur sedemikian rupa. Dari urusan pemerintahan, sampai urusan perut. Sayangnya, seringkali ada banyak pembodohan dalam menjalankan agama ini, dan kita yang jadi korbannya. Karena kita jarang sekali mau berpikir lebih cerdas.

Salah satu pembodohan sederhana, tapi berefek luar biasa tentang menjalankan agama kita adalah sebuah kalimat yang berbunyi "berbukalah dengan yang manis"

Kalau nggak salah, saya pertama kali mendengar kalimat ini ketika SD. Saya mendengarnya dari iklan minuman di TV. Dan sejak itu, rasanya semua orang menganggap bahwa itu adalah hadits yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahwa Rasulullah mengajarkan berbuka dengan yang manis-manis.

Faktanya : Rasulullah shalallahu alayhi wasallamTIDAK PERNAH mengajarkan berbuka dengan yang manis. Atau, tidak ada satupun hadits Rasulullah yang redaksinya menjelaskan untuk berbuka dengan sesuatu yang manis.

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam memang pernah bersabda begini :

”Bila kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma, karena kurma itu barakah. Kalau tidak ada kurma, maka dengan air, karena air itu mensucikan." (HR. Abu Daud dan At-Tirmizy)

Pernah juga Anas Bin Malik, seorang sahabat yang sejak kecil selalu berada di dekat Rasulullah, berkata "Rasulullah berbuka dengan ruthab sebelum shalat, jika tidak terdapat ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr, jika tidak ada beliau meneguk air."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ruthab itu kurma muda, yang segar, yang masih ada airnya. Dan tamr itu kurma kering, yang biasa kita temui di pasar.

Kurma memang adalah makanan yang manis. Dan nampaknya, ada orang yang memaknai bahwa, kalau nggak ada kurma, yang penting berbukalah dengan “sesuatu yang manis”. Lantas “sesuatu yang manis” itupun mengejawantah menjadi ; kolak pisang, bubur candil, es cendol, sop buah, es campur, brownis, kue coklat dan segala macam makanan manis yang ada di muka bumi.

Sampai akhirnya, ini jadi semacam kesepakatan tak tertulis. Bahwa berbuka memang harus dengan makanan & minuman yang manis-manis begitu.

Pertanyaannya,_ apakah sama manisnya kurma dengan manisnya makanan dan minuman di atas tadi?_

Jawabnya : jelas tidak.

Kandungan gula yang ada di kurma dan gula yang ada pada makanan minuman itu jauh berbeda. Saya nggak akan membahas istilah-istilah fruktosa, sukrosa, glukosa dan lain sebagainya ya. Silakan berselancar saja di internet, untuk mendapatkan istilah-istilah itu.

Yang jelas gula yang ada pada makanan dan minuman yang kita konsumsi selama ini dikategorikan menjadi simple carbohydrates, sehingga tubuh menyerap lebih cepat. Sehingga jadi lebih cepat juga diproses oleh pankreas menjadi hormon insulin. Karena penyerapannya sangat cepat, maka proses pembentukan insulin menjadi sangat cepat juga. Semakin banyak karbohidrat yang dikonsumsi, semakin tinggi kadar gula darah. Sehingga semakin banyak hormon insulin yang diproduksi untuk menetralkan kadar gula darah itu.

Kemudian, pasukan insulin ini akan memindahkan gula darah ke dalam sel, untuk selanjutnya dikonversi menjadi energi & glikogen (glikogen ini semacam deposit energi). Nah, masalahnya kapasitas sel untuk menampung glikogen itu terbatas. Jadi, kalau sel sudah penuh dengan glikogen, maka kelebihan gula darah akan dikonversi menjadi lemak. Inilah yang menjadi masalah.

Nah, beda dengan kurma. Kurma itu adalah complex carbohydrates , alias karbohidrat kompleks. Jadi, kadar gula yang ada di kurma itu jauh lebih lambat diserap oleh tubuh. Rantai prosesnya lebih panjang. Dan kata teman saya yang anak teknologi pangan, setiap proses “pemecahan senyawa kimia” dari karbohidrat kompleks itu pun membutuhkan energi. Ini kenapa insulin menjadi lebih lambat diproduksinya. Sehingga, gula darah yang didistribusikan ke sel untuk dikonversi jadi energi & glikogen juga sewajarnya. Nggak berlebihan. Jadi, otomatis, gula darah nggak akan sempat dikonversi menjadi lemak.

Paham sampai sini ya ? Kalau nggak paham, dipaksain utk paham saja yaaa....

Jadi, selama ini kita mungkin memiliki pemahaman yang keliru tentang “berbuka dengan yang manis”. Pemahaman yang keliru ini yang akhirnya membuat tubuh kita jadi kelebihan lemak. Obesitas. Lalu pada protes, “Kok saya puasa jadi makin gendut ya?”

“ya iyalaaaah...kamu makan & minumnya yang manis-manis sih!”

Nah, sampai sini kita semoga memahami mengapa Rasulullah hanya memakan kurma basah dan kurma kering saat berbuka. Kalau tak ada, maka beliau berbuka dengan air putih saja. Kalau kita, sebagai tambahan, atau kalau kesulitan mendapatkan kurma, bisa gantikan dengan buah yang manis. Pilihan makanan berbuka ini yang membuat tubuh Rasulullah begitu sehat & bugar. Tak ada lemak yang berlebih di tubuh.

Selamat menjalankann ibadah puasa.
Berbukalah dengan yang manis sesuai Sunnah Rasulullah shalallahu alayhi wasallam

Sumber : Tehnologi Pangan & Sudut pandang Islam

================================================

“BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS? ”
HADITS KAH?

Tidak ada hadits "BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS" Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan air minum jika tidak ada kurma


Entah sejak kapan mulai populer ungkapan “Berbukalah dengan yang manis“ Ada yang mengatakan sejak sebuah iklan produk minuman menggunakan tagline tersebut di bulan Ramadhan. Sampai-sampai sebagian (atau banyak) orang menganggap ungkapan ini sebagai hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (!?!)

Yang jelas, tidak ada hadits yang berbunyi "Berbukalah dengan yang manis” atau semisalnya, atau yang mendekati makna itu. Baik dalam kitab hadits maupun kitab fiqih. Tidak ada sama sekali. Namun sayang sekali ungkapan ini disebar-sebarkan sebagai hadits oleh sebagian da’i dan juga public figure semisal para selebritis yang minim ilmu agama. Dan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

من حدَّثَ عنِّي بحديثٍ وَهوَ يرى أنَّهُ كذِبٌ فَهوَ أحدُ الْكاذبينِ

"barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku suatu hadits yang ia sangka bahwa itu dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta”
(HR. Muslim dalam Muqaddimah-nya).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

كَفَى بِالمَرْءِ إِثْمًا أنْ يُحَدِّثَ بكلِّ ما سمعَ

“cukuplah seseorang dikatakan pendusta ketika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar”
(HR. Abu Daud 4992, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 2025)

Mengenai apa yang dimakan ketika berbuka sendiri sudah ada tuntunannya,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air”
 (HR. Abu Daud 2356, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Namun memang, sebagian ulama dari hadits ini meng-qiyas-kan kurma dengan makanan yang manis-manis. Taqiyuddin Al Hushni, penulis kitab Kifayatul Akhyar menukil pendapat Ar Rauyani yang menyatakan demikian:

وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ

“dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini. karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: 'kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma'” (Kifayatul Akhyar, 200).


NAMUN PENDAPAT INI PERLU DIKRITISI KARENA:

Nash hadits tidak mengisyaratkan illah secara tersirat maupun tersurat. Menetapkan sifat “manis” sebagai illah adalah ijtihad sebagian ulama, dan ini tidak disepakati.Kurma itu berkah. Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

( إنَّ مِن الشجَرِ لما بَرَكَتُهُ كَبركةِ المسلمِ ) . فَظننتُ أنَّهُ يعني النخلةَ ، فأردتُ أنْ أقول : هي النخلةُ يا رسولَ الله ، ثم التَفتُّ فإذا أنا عاشِرُ عَشَرةٍ أنا أحْدَثهُم فسَكتُّ ، فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( هيَ النَّخلَة )

“Sesungguhnya ada pohon yang daunnya tidak berguguran, dan ia merupakan permisalan seorang muslim. Pohon apa itu?”. Aku (Ibnu Umar) menyangka yang dimaksud adalah pohon kurma. Namun aku enggan “wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma”, maka aku berpaling. Karena aku terlalu muda untuk bicara kepada mereka, jadi aku diam saja. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberitahu jawabannya: “Pohon tersebut adalah pohon kurma"(HR. Bukhari 131, Muslim 2811).

Dalam kitab Sifat Shaumin Nabi fii Ramadhan (66) karya Syaikh Ali Al Halabi dan Syaikh Salim Al Hilali dikatakan:  “ketahuilah wahai hamba Allah yang taat, bahwa kurma itu memiliki keberkahan-keberkahan yang khusus yang bisa mempengaruhi hati dan membersihkannya. Ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang mengikuti sunnah”

Jika demikian makanan manis tidak bisa di-qiyas kan pada kurma, karena makanan manis biasa tidak memiliki keberkahan ini.

Konsekuensi dari qiyas ini berarti jika tidak ada kurma maka yang lebih dulu dimakan adalah makanan manis, jika tidak ada makanan manis baru air. Sedangkan nash mengatakan jika tidak ada kurma maka berbuka dengan air. Walhasil, ini bertentangan dengan nash. Dan qiyas itu tidak boleh bertentangan dengan nash.

Ketika menjelaskan syarat-syarat qiyas, diaantaranya Syaikh Muhammad Husain Al Jizani mengatakan: “syarat ke delapan: illah-nya tidak menyelisihi nash atau ijma’. Ini jika illah tersebut merupakan hasil istinbath” (Ushul Fiqh Inda Ahlis Sunnah, 194)

Banyak ulama menjelaskan alasan mengapa Nabi berbuka dengan kurma dahulu yaitu karena kurma itu manis dan makanan manis itu menguatkan tubuh orang yang puasa. Ini dalam rangka menjelaskan hikmah bukan illah.

Hikmah berbeda dengan illah, Syaikh Sa’ad bin Nashir As Syatsri mengatakan: “perbedaan antara illah dan hikmah: illah adalah washfun mundhabitun (sifat yang terukur dan jelas batasannya), sedangkan hikmah tidak selalu berupa washfun mundhabitun. Misalnya safar adalah illah untuk bolehnya meng-qashar shalat, sedangkan ‘menghilangkan kesulitan hamba’ ini adalah hikmah (dari meng-qashar)”
 (Muqaddimah fii Ilmi Maqashid As Syari’ah, 7).

Namun qiyas Ar Rauyani ini bukanlah qiyas fasid karena sifat “manis” ini masih termasuk sifat yang munasib li binaa-il hukmi (sifat yang cocok untuk dijadikan bahan pemutusan hukum), namun merupakan qiyas yang lemah.

Dan pendapat Ar Rauyani (yang merupakan ulama Syafi’iyah) dibantah oleh banyak ulama fiqih yang lain, termasuk para ulama dari kalangan Syafi’iyah sendiri. Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan:

“فإن عجز” عن الثلاث “فبتمرة” أو رطبة يحصل له أصل السنة “فإن عجز” عن الرطب والتمر “فالماء” هو الذي يسن الفطر عليه دون غيره خلافًا للروياني حيث قدم عليه الحلو وذلك للخبر الصحيح المذكور

"[jika tidak ada] tiga tamr atau ruthab [maka dengan satu tamr] atau ruthab. Maka dengan ini tercapai pokok sunnah.

[Jika tidak ada] ruthab dan tamr [maka dengan air].

Inilah yang disunnahkan dalam berbuka, bukan yang lainnya.

Tidak sebagaimana pendapat Ar Rauyani yaitu ia mendahulukan makanan manis. Pendapat ini (didahulukannya kurma dan air) berdasarkan hadits shahih yang telah disebutkan”
(Al Minhajul Qawiim, 1/252)

Zainuddin Al Malibari mengatakan:

قال الشيخان: لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني: الحلو أفضل من الماء ضعيف

“Syaikhan (An Nawawi dan Ar Rafi’i) mengatakan: ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’. Maka pendapat Ar Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah” (Fathul Mu’in, 1/274)

Dalam kitab Hasyiah Al Qalyubi Wa ‘Umairah (2/78) juga disebutkan:

قَوْلُهُ: (عَلَى تَمْرٍ) وَالْأَفْضَلُ كَوْنُهُ وَتْرًا وَكَوْنُهُ بِثَلَاثٍ فَأَكْثَرَ وَيُقَدِّمُ عَلَيْهِ الرُّطَبَ وَالْبُسْرَ وَالْعَجْوَةَ وَبَعْدَهُ مَاءُ زَمْزَمَ، ثُمَّ غَيْرُهُ، ثُمَّ الْحَلْوَاءُ بِالْمَدِّ خِلَافًا لِلرُّويَانِيِّ. وَيُقَدِّمُ اللَّبَنَ عَلَى الْعَسَلِ لِأَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُ

“perkataan As Suyuthi: ‘dengan kurma’, menunjukkan bahwa yang afdhal berbuka dengan tamr yang jumlahnya ganjil, tiga atau lebih, dan yang lebih utama darinya adalah ruthab dan busr dan ajwah. Dan tingkatan setelah tamr adalah air zam-zam, baru yang lainnya, baru kemudian makanan manis sebagai tambahan. Tidak sebagaimana pendapatnya Ar Ruyani. Dan juga susu diutamakan dari pada madu karena susu lebih utama dari madu”

MAKANYA KESIMPULANNYA:

Tidak ada hadits “berbukalah dengan yang manis“.Tidak tepat mendahulukan berbuka dengan makanan manis ketika tidak ada kurma. Lebih salah lagi jika mendahulukan makanan manis padahal ada kurma.

Yang sesuai sunnah Nabi adalah mendahulukan berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma maka dengan air minum. Adapun makanan manis sebagai tambahan saja, sehingga tetap didapatkan faidah makanan manis yaitu menguatkan fisik.

Wallahu a’lam.

=================

Penulis: Yulian Purnama

Artikel http://Muslimah.Or.Id

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon